Sungai Penuh-Kerici dan Sejarahnya

Melongok kota di Kerinci dengan sejumlah peninggalan salah satu suku tertua di Tanah Air.
Berbicara soal peninggalan kuno, tak banyak yang menyinggung Kota Sungai Penuh. Sungai Penuh merupakan salah satu kota di Provinsi Jambi, hasil pemekaran dari Kabupaten Kerinci. Kota yang pernah menjadi ibu kota Kabupaten Kerinci ini secara resmi menjadi Kota madya pada 8 November 2008. Walaupun secara administrasi terpisah, akan tetapi akar sejarah, sosial, dan budaya masyarakat Suku Kerinci di Kota Sungai Penuh masih merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.









Masjid Raya Kota Sungai Penuh.
Beberapa peninggalan sejarah Suku Kerinci di Kota Sungai Penuh masih ada hingga kini. Iskandar Zakaria, salah seorang bu da ya wan Kerinci menyebut, di antaran ya, adalah kawasan rumah larik dan Masjid Agung Pondok Tinggi. ``Peninggalan sejarah ini menjadi salah satu bukti keberadaan Suku Kerinci yang diduga sebagai salah satu suku tertua di Indonesia," ujar dia.

Rumah larik merupakan rumah asli masyarakat Kerinci. Rumah larik yang berbentuk panjang dan dibangun secara berdempetan ini biasanya ada di setiap dusun/desa yang ada di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Rumah larik mempunyai keunikan karena terhubung dengan pintu dari satu rumah ke rumah yang lain. Salah satu rumah larik yang masih memiliki karakteristik zaman dahulu adalah Kawasan Rumah Larik Li mo Luhah yang terdapat di Kelu rah an Sungai Penuh, Kecamatan Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh.

Kawasan Larik Limo
Di kawasan Rumah Larik Limo hanya tinggal beberapa bangunan rumah yang terlihat utuh. Rumahrumah larik lainnya telah berganti model menjadi lebih modern dan terbuat dari semen. Kondisi fisik bangunan rumah larik masih terlihat baik walaupun di beberapa ba gian terlihat sudah usang karena kayu yang digunakan sudah ber usia tua.

Rumah larik sudah ada sejak Islam masuk ke Kerinci. Karena itu, banyak juga ditemukan peninggalan bercirikan prasejarah di dalamnya. Di antaranya ada Ma kam Nenek Pemangku Rajo dan Batu Lumpang. Pengaruh Islam ter lihat dari adanya Masjid Raya, Tanah Mendapo, dan Tabuh Larangan Sigantou Alang Singarapi Puteah di Kawasan Rumah Larik Limo Luhah.

Makam Nenek Pemangku Rajo berada di Larik Tengah, dalam Ka wasan Rumah Larik Limo Luhah Sungai Penuh. Makam ini berada di tengah permukiman warga, tepat di sebelah lapangan voli dalam sebuah tempat dengan luas 3,7 x 4,9 m dan telah diberi pagar.

Kondisi fisik makam masih terlihat baik, walaupun di beberapa bagian makam tertutupi oleh se mak-semak yang tidak dibersih kan.

Makam ini dikelola oleh ma sya rakat sekitar dan dipercaya sebagai makam nenek moyang orang Sungai Penuh yang merupakan ma kam para pemangku raja. Makam Nenek Pemangku Rajo dan Batu Lumpang Sungai Penuh ini termasuk ke dalam Benda Cagar Budaya Kota Sungai Penuh di bawah Pengelolaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal (BP3) Jambi.Di kawasan Rumah Larik Limo Luhah juga terdapat sebuah masjid yaitu Masjid Raya Sungai Penuh.

Masjid itu terletak di pinggir jalan raya disebelah Sungai Batang Bungkal. Masjid Raya Kota Sungai Penuh ini menjadi saksi bisu proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Kerinci tanggal 23 Agustus 1945 dengan dikibarkannya Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya oleh A Thalib man tan (Tyui) letnan satu GyuGun. Saat ini telah dibangun sebuah replika Bendera Merah Putih di halaman depan masjid untuk mengenang sejarah perjuangan penjajahan di Kerinci.
Masjid unik bersejarah
Selain Kawasan Rumah Larik Limo Luhah, daya tarik Kota Sungai Penuh terletak pada peninggalan masjid kuno yang mempu nyai arsitektur khas. Yakni, Masjid Agung Pondok Tinggi. Keunikan Masjid Agung Pondok Tinggi adalah dibangun tanpa menggunakan paku besi tetapi dengan cara memakai pasak kayu hingga dapat berdiri dengan megah. Selain itu juga terdapat motif-motif ukiran pada dinding masjid yang rata-rata berbentuk seperti tumbuhan.

Masjid Agung Pondok Tinggi secara administratif terletak Desa Pondok Tinggi, Kecamatan Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Sungai Penuh.

Masjid ini mempunyai sejarah sa ngat kuat dengan penyebaran Islam serta kehidupan masyarakat Sungai Penuh. Masjid Agung Pondok Tinggi digunakan oleh pemerintah Kota Sungai Penuh sebagai lambang Kota Sungai Penuh.

Selain objek-objek tersebut, masih banyak terdapat warisan sejarah budaya lain di Kota Sungai Penuh. Ada menhir Dusun Kecek Malako Tinggai yang saat ini ditumbuhi semak-semak liar. Padahal, Kota Sungai Penuh termasuk salah satu anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Oleh Yoni Elviandri,Mahasiswa ed: nina chairani

Cara Mudah ke Kota Sungai Penuh
Kota Sungai Penuh dapat dicapai dengan dua jalur yaitu jalur darat dan jalur udara.Jalur darat bisa ditempuh dari berbagai kota di Sumatra seperti Kota Jambi dan Kota Padang.

Dari Kota Jambi perjalanan menuju Kota Sungai Penuh ditempuh sekitar sebelas jam dengan travel atau minibus sedang kan dari Kota Padang, Kota Sungai Penuh dapat dicapai hanya dengan waktu tujuh jam perjalanan dengan travel atau minibus.

Perjalanan jalur udara hanya dapat di tempuh dari Kota Jambi menuju Kabupaten Kerinci dengan pesawat Susi Air de ngan tiket seharga Rp 325 ribu yang ditempuh selama 45 menit dan akan mendarat di lapangan udara Depati Parbo di Hiang, Kabupaten Kerinci.

Penerbangan ini beroperasi setiap hari Senin dan Rabu.Dari Hiang bisa dilanjutkan dengan naik ojek atau angkot selama sepuluh menit.

Menikmati Kenduri Sko
Jika berkunjung ke Kota Sungai Penuh di waktu yang tepat, Anda bisa menyaksikan salah satu aktivitas budaya Suku Kerinci yaitu upacara kenduri sko. Upacara adat kenduri sko bertujuan untuk meng ungkapkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Pada acara itu ada penobatan seseorang putra daerah menjadi depati ninik mamak serta adanya penurunan atau pencucian benda-benda pusaka.

Kenduri sko ini biasanya berlangsung pada waktuwaktu tertentu di setiap desa atau dusun di Kerinci.Ada yang setiap tiga tahun sekali namun ada juga yang hingga enam atau tujuh tahun sekali.

Proses acara kenduri sko ini dimulai dengan persiap an di setiap rumah gedang masing-masing suku. Kemudian, para pemangku adat seperti ninik mamak, rio, dan depati di arak menuju tempat diadakannya kenduri sko.

Para pemangku adat ini memakai baju khas Suku Kerinci berwarna hitam serta dipayungi oleh anak batino (sebutan untuk keturunan perempuan di Kerinci).

Kenduri sko biasanya dilakukan di sanggar, masjid, atau di ruangan yang cukup besar karena dihadiri oleh seluruh pemuka adat dan masyarakat sekitar. Sebelum masuk ke tempat tersebut akan dilakukan silat oleh pa ra anak jantan yang memakai baju merah. Di bebe ra pa tempat di Kerinci acara kenduri sko ini juga melibatkan anak-anak kecil sebagai penari yang mem bawakan tari rangguk. Tari tradisional yang berasal dari Kerinci.

Comments

Popular Post