Case 03 : Forest Witness

Langit tampak cerah pagi itu, meski udara tidaklah segar. Gas-gas buangan kendaraan bermotor memenuhi udara dengan lamban namun pasti. Ian sedang menikmati secangkir kopi di halaman belakang rumah peninggalan Ayahnya, Silent Rose generasi pertama. Rumah mewah di kawasan perumahan di tepi kota Jakarta ini adalah tempat dia dibesarkan, sebelum pada usia 10 tahun, dia mengikuti karantina pendidikan di pusat pelatihan Association di Braunschweigh, Jerman.

Meski dari luar hanya terlihat seperti rumah mewah biasa, rumah itu penuh dengan kejutan. Ian adalah generasi keempat yang ikut ambil bagian di Association, kakek buyut dan kakeknya, adalah pembunuh bayaran yang cukup ekstrim, dengan codename : Bleeding Rose. Entah mengapa Ayahnya berhenti menggunakan codename itu dan merubah metode kerja sehingga menyandang codename : Silent Rose.

Ian tersenyum geli kala ia ingat bagaimana ia terjebak di ruangan tertutup di samping dapur ketika ia masih berusia tujuh tahun. Kala itu ia penasaran dengan larangan Ayahnya untuk masuk ke ruangan dengan pintu bercat biru-kuning yang ada di samping dapur. Ia lantas membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut, namun tiba-tiba, seluruh ventilasi ruangan tertutup hingga ruangan itu menjadi sangat gelap. Beberapa menit kemudian ruangan itu menjadi terang kembali karena lampu yang menyala, namun, Ian tidak menemukan satu pintupun di dinding.

Ian sempat menangis dan menghabiskan waktu berjam-jam dalam ruangan itu sebelum sang Ayah membuka pintu yang ternyata bermotif sama dengan dinding bagian dalam ruangan tersebut. Setelah peristiwa itulah sang Ayah lalu menceritakan beberapa rahasia tentang rumah dan profesi asli Ayah serta kakeknya.

Sejak kecil, Ian hanya tinggal dengan Ayahnya, Hutomo Airul, yang lebih sering dipanggil dengan ‘Tom’. Ibunda Ian, Asha Putri, menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit setelah melahirkan Ian. Dia tidak pernah melihat sosok Ibunya selain dari foto besar yang terpajang di ruang keluarga. Foto yang kini entah ada dimana.

Lamunan Ian terhenti saat ia mendengar langkah seseorang, ia menolehkan kepalanya dan melihat Cinthya, yang sekarang menjadi adiknya dengan nama Evangeline Irene berdiri di ambang pintu belakang, Eva tampak cantik dengan baju sutera tipis berwarna putih dengan motif mawar kepunyaan mendiang Ibunda Ian. Ian tersenyum, mengambil cangkir kopinya dan beranjak dari duduknya.

“Sudah bangun rupanya”, Ian berjalan mendekati Eva. Eva hanya mengangguk. “Kau lapar?”, Eva menggeleng pelan.

Sudah sebulan Eva tinggal di kediaman Ian, namun masih belum banyak bicara, shock yang dialaminya atas kejadian tempo hari sepertinya benar-benar sulit untuk disingkirkan. Awalnya, Ian sedikit risih dengan keberadaan Eva. Bagaimanapun, kehadiran orang lain selain dirinya sendiri. Namun beberapa hari terakhir ini Ian sudah mulai terbiasa. Tatapan mata Eva bukan lagi tatapan penuh ketakutan seperti yang dilihat oleh Ian saat berada di pulau penuh sindikat narkoba. Kini, tatapan Eva terasa lebih lembut dan normal. Entah mengapa hal itu memberi kelegaan tersendiri di hati Ian.

Kruyuuukk…. Sebuah suara keluar dari perut Eva. Ian tersenyum mendengarnya, “kamu ini…”, ucap Ian sambil mengelus ubun-ubun kepala Eva. Ian lalu bergegas mengambil celemek dan beberapa butir telur dari lemari es.

“Tunggulah di ruang makan, kita sarapan bersama. Aku sudah lapar menunggumu”, ucap Ian sambil menyiapkan penggorengan.

Eva berjalan menuju ruang makan, beberapa hari yang lalu, perasaanya seperti kosong-hampa. Masih dapat dia bayangkan apa yang dia lihat, saat para preman itu menembaki teman-temannya, memperkosa Gea di depan matanya. Eva masih dapat mencium bau anyir darah yang keluar dari tangan yang ditebasnya menggunakan parang.

Perasaan kosong itu memuncak saat dia terpojok, saat satu-persatu pengejarnya tumbang, saat Ian secara tanpa diduga muncul dengan senapan di tangannya dan seketika gelap. Saat siuman, dia sudah berada di sebuah kafe dengan Ian di sampingnya.

Saat Ian datang, menceritakan identitas aslinya dan menawarkan beberapa opsi yang ada, Eva tidak bisa berpikir jernih, namun ada kehangatan yang Eva rasakan di setiap tutur kata Ian, sesuatu yang membuat isi di dalam dadanya bergejolak. Akhirnya, Eva memutuskan untuk mengikuti kemauan Ian, orang yang telah menyelamatkannya. Dia setuju untuk tinggal dan membantu, menurutnya itu lebih baik daripada berhadapan dengan polisi, lagipula, tidak ada keluarga yang menunggunya lagi.

Tidak berapa lama kemudian, Ian datang membawa baki berisi dua piring telur mata sapi dan dua gelas susu. Mereka memulai sarapan
.
“Belum terbiasa dengan semua ini ya?”, tanya Ian di sela-sela sarapan mereka.

“nggak juga…”, Eva menjawab lirih. “ini sudah pilihanku”.

“bukan pilihan mudah memang, tapi jika bukan ini yang kamu pilih, aku harus melenyapkanmu”, Ian berkata dengan nada datar, tanpa mengalihkan perhatian dari telur mata sapinya.

“kenapa menolongku?”, Eva bertanya dengan tiba-tiba. Ian menghentikan makannya sejenak dan memandang Eva. “kenapa tidak membiarkanku mati seperti yang lain?”, tanyanya lagi.

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. ‘kenapa?!... Ya! Kenapa?!’, pertanyaan itu juga muncul berulang kali di pikiran Ian. Namun dia tidak menemukan jawaban yang rasional untuk itu.

“entahlah…”, jawab Ian sambil kembali menyantapnya. “insting…, kupikir aku menolongmu hanya karena insting”.

“insting?!”, Eva mengernyitkan dahi.

“mungkin aku punya perasaan khusus padamu… mungkin… cinta?!”, Ian menyerah dan menjawab sekenanya tanpa mempedulikan wajah Eva yang memerah akibat jawaban asal-asalannya.

Eva menyibukkan diri dengan sarapannya, berusaha menutupi rasa groginya atas jawaban tak terduga yang dilontarkan Ian.

“Aku adalah Silent Rose…”, Ian meletakkan alat makannya. “dan aku tidak pernah mempedulikan orang lain di luar targetku. Jadi jika aku menyelamatkanmu saat itu, aku juga tidak tahu kenapa. Hanya saja…”, Ian menghentikan kata-katanya, memandang jauh ke luar jendela. “Hanya saja, ada bisikan yang kuat di dalam kepalaku untuk melakukan itu, dan aku lakukan”.

“Kepada siapa kalian bekerja? Dan untuk apa?”, Eva mulai menyelidik.

“Jika aku ceritakan, apa kamu tahu resiko dari pengetahuan yang kamu dapat?”. Ian menatap tajam pada Eva. “Dengar Eva, semakin sedikit yang kamu tahu, itu semakin baik untukmu”.

Ian beranjak dari kursinya.

“Oh ya”, ujar Ian ketika melewati Eva. “Tolong cuci piringnya”. Katanya sebelum berlalu menuju ruang kerjanya.


*_*_*

Ian melihat rak buku bergaya eropa kuno yang ada di ruang kerjanya. Entah sudah berapa tahun rak itu ada disana, buku-buku hard cover yang tebal tersusun rapi di dalamnya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, hanya ada beberapa buku yang tampak tidak tersentuh oleh debu. Ian menarik salah satu buku berwarna merah dengan tulisan “Enemy of Public”, dan sebuah pintu rahasia muncul di sisi rak tersebut. Ian melangkah masuk ke dalam ruang rahasia itu.

Tangga yang terbuat dari batu-batu sungai yang disusun itu terlihat bersih, cukup licin, butuh skill tertentu agar tidak tergelincir ketika melewatinya. Tangga itu menuju ruang bawah tanah, ruangan yang sudah beberapa generasi difungsikan sebagai ruang kerja untuk menyusun strategi, informasi, dan menyimpan peralatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah case.

Sejak Antonius Handoko, Ian belum beraksi lagi. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk menemani Cinthya yang kini bernama Evangeline Irene. Ian berencana untuk membuat Eva menjadi berguna baginya. Menjaga dan merawat rumah yang kerap kali ditinggal saat menjalankan Case.

Ian menepukkan kedua tangannya, seketika lampu di ruangan itu menyala terang. Ruangan bawah tanah yang cukup besar, dengan dua buah whiteboard besar di salah satu sisi dinding ruangan itu, sisi-sisi dinding lainnya dihiasi banyak lukisan-lukisan.

Ian berjalan dan berhenti di sebuah lukisan besar yang menggambarkan tiga orang wanita yang tengah menyiram bunga mawar merah. Ian menekan gambar mawar dilukisan tersebut, beberapa detik kemudian, lukisan itu terbelah menjadi dua dan menampakkan sebuah lemari kaca berisi senjata di baliknya.

Ian memasukkan kode untuk membuka lemari kaca tersebut dan mengambil sebuah senapan laras panjang M24A2s berwarna merah marun dengan ukiran mawar di gagangnya buatan Remington yang telah dimodifikasi khusus dengan silencer dan nightvision binocular. Senjata yang juga digunakan oleh Ayahnya ketika masih hidup. Senjata ini dipesan khusus oleh Ayahnya dan dimodifikasi oleh sang Ayah sendiri.

Ketika sedang asyik memeriksa senjatanya, Ian seketika menyadari kehadiran orang lain di ruangan tersebut. Dengan sigap Ian berbalik dan mengarahkan M24A2s nya ke sosok lain di ruangan tersebut.

“Ah!!”, Eva memekik terkejut ketika Ian mengarahkan senjata padanya.

“Bagaimana kamu bisa masuk kesini?”, Ian masih mengarahkan senjatanya ke arah Eva, meski dia sadar kalau senjata itu tidak berpeluru.

“Aku sedang membersihkan rak buku di tempat kerjamu dan tiba-tiba sebuah pintu terbuka…”, Eva menjelaskan dengan sedikit takut. Senjata yang diarahkan Ian padanya, adalah senjata yang sama saat berada di pulau.

Ian menurunkan senjatanya setelah ia melihat Eva memegang kemoceng di tangannya, bukti bahwa ia sedang bersih-bersih. “Maaf, itu tadi reflek”. Ujarnya sambil meletakkan kembali M24A2s nya ke lemari kaca.

Eva memandang isi lemari kaca tersebut, ada banyak senjata di dalamnya selain M24A2s, satu buah pistol Beretta U22 Neos 7”, dua buah pistol pendek Beretta PX4 Storm, dan sebuah senapan laras panjang XM2010 ESR. Eva memandang semuanya dengan wajah kagum.

“Ini adalah teman-temanku” Ian memecah pandangan Eva yang menerawang. “Kau mungkin sudah melihat M24A2s yang dulu aku gunakan, tapi kadang aku juga menggunakan ini”, Ian meraih XM2010-ESR dan menunjukkannya pada Eva. Ian lalu menjelaskan senjata-senjatanya yang lain.

“Jadi, Ayahmu juga menggunakan senjata itu?”, tanya Eva setelah penjelasan singkat dari Ian.

“Kecuali XM2010-ESR, itu aku yang membelinya”. Jawab Ian singkat.

“Senjata itu telah turun-temurun di keluargamu?”

Ian tersenyum mendengar pertanyaan Eva, dia lantas menggeleng pelan. “Kakek dan kakek buyutku tidak pernah menggunakan senjata api. Metode yang mereka gunakan pun berbeda dengan aku dan Ayahku”.

Ian bergerak ke sisi lain dinding dengan lukisan seorang penari india di taman bunga mawar, Ian menekan sebuah tombol rahasia di pusar sang penari. Lukisan itu bergeser ke atas, etalase kaca lain ada di dalamnya, berisi dengan beberapa pisau berukuran kecil, dan beberapa pasang sarung tangan panjang berwarna coklat, hitam, putih dan merah marun. Di setiap sarung tangan itu, terdapat ukiran mawar dengan warna emas.

“Ini senjata yang digunakan kakek dan kakek buyutku, mereka membunuh target secara langsung”.

“Sarung tangan itu untuk menutupi sidik jari?”, Eva bertanya lebih dalam. Ian menggeleng sekali lagi, mengambil sepasang sarung tangan panjang itu dan mengenakannya.

“Ini adalah alat utama Bleeding Rose, codename untuk Kakek dan kakek buyutku..”, Ian memegang pundak Eva dan mengarahkan sarung tangan itu ke leher Eva. Dan secara mengejutkan sebuah pisau panjang tanpa gagang keluar dari bawah sarung tangan itu, berhenti hanya beberapa centimeter dari kulit leher Eva yang putih mulus. Eva hanya mampu memekik tertahan tanpa bisa menggerakkan seujung jaripun.

Ian melepas dan mengembalikan sarung tangan itu pada tempatnya, lalu bergerak ke arah lukisan bergambar kolam kecil dengan mawar di tengahnya. Sekali lagi, Ian menekan tombol tak terlihat yang ada di mawar tersebut. Kali ini, lukisan itu tidak bergeser atau terbelah, namun beberapa laci keluar dari dinding dibawah lukisan itu.

“Ayahku lebih tertarik dengan ini ketimbang senjata-senjata tajam itu”, Ian menunjukkan laci yang penuh dengan botol-botol kecil. Belum sempat Eva bertanya, Ian mengambil sebuah botol kaca berwarna merah. “Deadly Orchid, racun buatan Ayahku, membunuh dengan alami dan tidak terdeteksi, tidak berbau, tidak berasa, tanpa gejala khusus seperti tercekik dan lain sebagainya. Beginilah cara yang digunakan Silent Rose”.

Eva hanya mengangguk, kebingungan tampak jelas di raut wajahnya.

“Kau boleh membersihkan seisi rumah ini, tapi jangan sentuh apapun di ruangan ini”, jelas Ian sambil menutup kembali laci dan etalase-etalase yang terbuka.

“Banyak jebakan di rumah ini, terutama di ruangan ini. Aku minta kamu berhati-hati”.

Smartphone milik Ian tiba-tiba bergetar, Ian membuka e-mail yang masuk ke smartphone-nya.

From : Lazy Frangipani
Subject : HELP
Silent Rose, semua sudah siap, kini aku butuh bantuan yang pernah kau janjikan 10 tahun yg lalu. Case nomor 4a9951e sudah dibuka kembali.
ASAP.


‘Lazy Frangipani’? dalam bahasa Indonesia itu berarti Bunga kamboja yang malas. Kata sifat diikuti dengan nama tumbuhan adalah kode yang diberikan oleh Association kepada para pembunuh bayarannya. Ian mengernyitkan dahinya cukup lama membaca email tersebut. Sepuluh tahun yang lalu, dia masih belum menyandang gelar Silent Rose. Itu artinya yang menjanjikan sesuatu pada Lazy Frangipani adalah Silent Rose sebelumnya, yaitu Ayahnya. Apa yang dijanjikan oleh sang Ayah?!.

Ian masih belum bergeming, membaca kembali susunan kata demi kata yang ada pada email tersebut, seakan dia telah melewatkan sesuatu yang penting. Tiga tahun sudah dia menyandang gelar Silent Rose, selama itu juga dia selalu mencoba mengumpulkan data demi data tentang Ayahnya. Silent Rose sebelumnya meninggal dalam suatu Case untuk membunuh seorang kepala polisi senior yang berpengaruh, itu yang dia ketahui. Tapi apa yang dilakukan Ayahnya sebelum meninggal? Ian tidak dapat menebaknya. Dan firasatnya kali ini mengatakan email ini dapat menjadi petunjuk baginya.

“Ada sesuatu?”, Eva mengejutkan Ian yang sejenak larut dalam dunianya sendiri. Eva memandangnya heran, Ian menggeleng dan tersenyum.

“Ah, tidak apa-apa. Ada tugas untukku, bisa kau jaga rumah dan berjanji untuk tidak masuk ke ruangan ini atau ruangan berbahaya lain?, kau akan tetap aman selama ada di wilayahmu. Kamar, ruang tengah, teras belakang, dan dapur. Oke?”.

Eva mengangguk mengerti. Ian membawa Eva keluar dari ruang kerjanya dan memintanya kembali ke kamar. Setelah memastikan Eva masuk ke dalam kamar, Ian bergegas mengambil jaket kulit hitam dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

*_*_*


Perhatian Juna tidak teralih saat denting lonceng yang digantungkan di atas pintu terdengar, ia bahkan tidak menyadari saat Ian masuk, menaruh jaket kulitnya dan duduk di bar tepat di belakangnya. Juna sedikit terkejut saat Ian mencolek lengannya.

“eh… maaf mas”, ucap Juna sedikit gagap.

“Serius amat?”, Ian mengalihkan pandangannya ke sesuatu yang menarik perhatian Juna. Juna buru-buru berusaha menyembunyikannya.

“Aku bukan orang baru disini, untuk apa menyembunyikan layar yang merekam aktifitas di ruang kerja Pak tua itu?”, sergah Ian, kata-katanya membuat Juna mengurungkan niatnya.

Di layar televisi kecil itu tampak jelas apa yang terjadi di ruangan, seorang gadis tampak melenguh, tubuhnya terlihat mulus tanpa sehelai benangpun, gadis itu tengah berpegangan pada sebuah meja, membuat kedua payudaranya bergelantung indah, sedang di belakangnya, si Tua Wise Crow tampak asyik menggenjot gadis itu dalam posisi doggy style.

“Masih kuat juga Pak Tua itu…”, komentar Ian melihat apa yang ditampilkan di layar kecil itu. Ini memang bukan pertama kalinya Ian melihat hal seperti itu, setidaknya sebulan dua kali, Wise Crow pasti melampiaskan kebutuhan biologisnya pada gadis yang berbeda-beda. Tapi yang kali ini, terlihat lebih muda dari biasanya.

“yang dipakai Pak Tua itu… teman kuliahmu?”, selidik Ian setelah melihat mimik wajah Juna yang sedikit janggal. Juna mengangguk.

“Adik angkatan, Mahasiswa baru, lagi butuh uang”, tanpa diminta lebih lanjut Juna menjelaskan.

“Cih… sepertinya aku harus menunggu sedikit lama, Pak Tua itu cukup tangguh dalam hal ini. Aku akan merokok di meja sudut sana”, Ian menunjuk sebuah meja di sudut lalu beranjak ke arah sana.

Di dalam ruangan kerja Wise Crow, Rinda, gadis semester satu yang baru saja diputuskan pacarnya dan mengalami masalah ekonomi melenguh setiap si Tua Wise Crow menusuk vaginanya dengan penis. Pria tua itu sudah satu kali ejakulasi, dan ini adalah ronde keduanya, sesuai dengan perjanjian awal, Rinda melayaninya selama dua ronde dengan menggunakan kondom. Satu-satunya hal yang tidak diketahui oleh Rinda adalah Wise Crow telah melepas dan membuang kondomnya dengan cepat ketika mereka berpindah ke posisi doggy style.

“Ahh….aahh..ahhh…”, desahan demi desahan meluncur keras dari gadis molek yang tengah dilanda kenikmatan ini, dia sudah orgasme sekali dan kini dia ada di ambang orgasme keduanya.

Wise Crow yang cukup berpengalaman, memegang pinggang sexy Rinda dengan kedua tangannya, menjadikannya poros yang membuat tusukannya terasa lebih cepat, dalam dan bertenaga. Nafasnya memburu, berbaur rapi dengan kenikmatan yang dia rasakan dari vagina gadis delapan belas tahun ini.

“Ohh… Akku… aaahhh!!”, Rinda menyerah, orgasme menyerangnya, tubuhnya bergetar hebat, berkelonjotan tertahan, ini orgasme terhebat yang pernah dicapainya, pacar yang memutuskannya tidak pernah memberinya orgasme sehebat ini. Rinda melenguh sekali lagi, nafasnya tak teratur, Mr. Wise membiarkannya beristirahat sebelum beberapa detik kemudian kembali menggenjotnya.

Rinda hanya bisa pasrah sambil berusaha melihat sosok tua yang menyetubuhinya sekarang, pompaan penis Mr. Wise semakin kencang, membuat Rinda menjerit kecil. Hingga akhirnya Mr, Wise menekan seluruh penisnya dan menggeram kencang.

“App…!!!!”, Rinda terbelalak kaget, bukan karena tekanan penis pak tua yang menyetubuhinya, namun lebih terkejut dengan semburan hangat yang dia rasakan di rahimnya, saat itulah dia baru sadar bahwa Pak Tua yang menyetubuhinya ini telah melepas kondomnya, dan kini menumpahkan benih di rahimnya!. Raut wajahnya makin khawatir mengingat ini adalah masa suburnya.

Mr. Wise mencabut penisnya dengan tenang, raut kelegaan ada di wajahnya, sebaliknya, Rinda kini terlihat khawatir, dia merasa telah tertipu.

“Lebih enak tidak pake kondom dan dikeluarkan di dalam”, jawab Mr. Wise datar seolah membaca raut muka Rinda yang hendak protes. “Aku yakin Juna juga akan setuju dan melakukan hal yang sama”. Tambahnya.

“Apa maksud Bapak?!”, Rinda protes.

“Juna pasti melihat dari kamera di sudut itu, jadi sebaiknya kamu layani juga dia, meski aku yakin Juna tidak akan sehebat aku. Sudahlah, beberapa benih tambahan tidak akan mengalahkan sperma juaraku”, kata Mr. Wise sambil mulai berpakaian dan membuka pintu.

“Aku nggak mau!”, Rinda menolak tegas, berusaha mengambil pakaiannya, tapi dia kalah cepat, Mr. Wise lebih lincah dan tangkas dari dia.

“Pakaianmu akan kukembalikan setelah Juna selesai mengisi rahimmu”, jawabnya dingin sambil meninggalkan ruangan.

Dan Rinda baru saja tersadar, dia telah memilih jalan yang salah.

“Juna! Giliranmu!”, Mr. Wise berkata dengan nada cukup lantang. Juna terkejut dan salah tingkah mendengarnya.

“M..maksud Mister?”, terlihat sekali kekagetan di wajah Mahasiswa ekonomi itu.

“Aku sudah bosan memelihara seorang penonton, masuk dan lepaskan keperjakaanmu itu! Atau kau mau melewatkan cewek secantik Rinda?”, Mr. Wise mengambil gelas dan mengalirkan segelas air putih dan meneguknya. Juna diam sejenak, terlihat bingung sebelum akhirnya dia melangkah ke ruang kerja Mr. Wise.

“Apa kau tidak terlalu keras memperlakukan seorang perjaka seperti Juna?”, Ian berkata diantara kepulan asap rokoknya. “Laki-laki kan seharusnya memilih kapan dan dengan siapa dia melepas keperjakaannya”.

“Ah!”, Mr. Wise tampak baru menyadari keberadaan Ian di cafĂ© itu. “Kau mengejutkanku, Rose. Bagaimana Eva?”, nadanya kembali tenang. Mr. Wise mengambil selembar tissue dan membersihkan sebuah gelas kaca di dekatnya.

“Dia baik”, Ian mendekat ke bar, melirik ke layar kecil yang menayangkan keadaan ruangan kerja Mr. Wise. Di layar tampak Juna sedang berusaha memaksa Rinda untuk melayaninya.

“Aku tidak suka pria yang terlalu lurus”, ujar Mr. Wise melihat Juna yang susah payah membaringkan tubuh telanjang Rinda. “Mestinya dia pukul kepala cewek itu, dengan begitu perlawanan pasti akan berkurang”.

Ian tidak berkomentar, memang yang dikatakan oleh Mr. Wise terdengar kasar, namun itu memang salah satu trik untuk memaksakan kehendak. Tunjukkan siapa yang lebih kuat, dan ketakutan akan melemahkan mereka.

Mr. Wise menjauhkan matanya dari layar ketika dia melihat Juna sukses melakukan penetrasi ke vagina Rinda. “Jadi? Apa yang bisa tua bangka ini bantu, Silent Rose?, kau sudah siap memulai sebuah Case lagi?”.

“4a9951e…”,ujar Ian dingin, matanya menatap tajam bola mata Mr. Wise yang masih tampak asyik dengan gelas dan tissue-nya. Perlahan bola mata itu bergerak balik menatap Ian, Ian memalingkan pandangannya. ‘Percuma mencoba membaca apa yang ada di kepala tua bangka ini’, gerutu Ian dalam hati, dia paham betul, para Agen tipe B yang menyandang codename dengan pola nama burung sebagai awal codename dan kata sifat sebagai akhiran adalah tipikal para pemain psikologis yang tinggi. Mereka memang terlatih untuk menjadi seorang informan sekaligus game-maker.

“Case lama sekali”, Mr. Wise mulai menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan situasi. “Informasi apa yang kau butuhkan tentang case yang mulai kadaluarsa itu?”.

“Tak biasanya kau bicara banyak”, Ian mencoba membalik situasi sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, meski dia tahu itu mungkin tidak banyak berpengaruh.

Mr. Wise tidak menjawab, dia mencabut pena dari saku bajunya dan menuliskan beberapa digit angka di atas tisu lalu menyodorkan ke Ian. Ian membaca dan mengambil ponselnya untuk melakukan transfer dana sesuai yang tertulis di tisu itu.

“Done”, Ian menunjukkan tulisan yang tertera di layar ponsel canggihnya. Mr. Wise tersenyum, senyum kemenangan yang membuat Ian sedikit sebal.

“aku masih ingat detail kasus itu, dibeli tunai oleh Lazy Frangipani dariku, entah darimana dia punya cukup dana untuk membeli kasus itu. Yang jelas, seperti biasa, Lazy Frangipani selalu lama dalam menyelesaikan kasus itu. Aku sendiri tidak tahu apa dia sekarang dia masih hidup atau tidak”.

Mr. Wise mengambil gelas lain untuk dibersihkan. “sampai sekarang case itu belum ditutup. Lazy Frangipani juga tidak ada kabarnya. Apa kau tertarik untuk melakukan TOC?”.

Ian menggeleng, TOC adalah singkatan dari Take Over Case, dimana artinya seorang Agen membeli kembali case yang sudah hampir kadaluarsa dengan catatan harus membunuh agen yang sebelumnya telah mengambil kasus tersebut. Dalam hal ini, jika Silent Rose melakukan TOC terhadap case nomor 4a9951e yang telah dibeli Lazy Frangipani, maka Silent Rose juga harus memburu Lazy Frangipani. Setelah agen sebelumnya mati, baru case dinyatakan closed.

“Isi dari case itu?”, Ian mencoba peruntungannya dengan pertanyaan itu, kecil kemungkinan seorang Wise Crow akan melanggar kode etik dengan menjelaskan isi suatu case, kecuali jika Silent Rose telah menyatakan TOC.

“Jangan memaksaku mengingatkan cara kerja Association”, jawab Mr. Wise dingin.

“Apa ada case yang berkaitan dengan case 4a9951e?”, kali ini Ian bertanya dengan jalur yang benar.

Mr. Wise meletakkan gelasnya dan menatap Ian dalam-dalam. “Silent Rose…”, ujarnya dingin. “Apa yang membuatmu tertarik dengan case tersebut?”, tatapan Mr. Wise seakan membekukan dirinya, Ian dapat merasakan dingin mulai menjalar ke tengkuknya.

“Tidak masalah kalau kau tidak menjawabnya”, Ian beranjak dan bergegas pergi, mencoba lari sebelum Mr. Wise benar-benar membaca pikirannya.

“Tunggu…”, Mr. Wise menahan kepergian Ian. “Ada case yang memiliki ruang lingkup sama dengan case itu, tapi tentu saja, target berbeda”.

Ian menghentikan langkahnya.

“Ayo ke ruang kerjaku”, tambah Mr. Wise sambil melirik ke layar dimana Juna baru saja mencabut penisnya dari vagina Rinda.

Comments

Popular Post